Menguak Dapur Penerbit Mayor
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, malam ini Allah masih memberi nikmat kesehatan dan kesempatan kepadaku untuk mengikuti kelas belajar menulis yang sudah memasuki pertemuan ke-20. Pertemuan malam ini bisa dikatakan sebagai cek point pertama, karena jika resume malam ini selesai, maka peserta bisa langsung merapikan dan mengembangkan tulisannya menjadi sebuah buku solo.Tanpa terasa langkah untuk memiliki buku karya sendiri semakin nyata di depan mata.
Harapan tersembur semoga saja bisa menciptakan hasil karya yang terbaik ,dengan goresan pena mengukir kata demi kata sehingga akan semakin menambah warna khasanah perbukuan Nusantara.Di pandu oleh
Bapak Muliadi, kuliah malam ini dibagi dalam 4 sesi:
1. Pembukaan
2. Penjabaran materi
3. Sesi Tanya Jawab
4. Penutup
Bersyukur dan berterima kasih kepada tim kelas BM, malam ini berkenan menghadirkan bapak Edi S. Mulyanta,S.Si,M.T. sebagai narasumber. Sosok bapak tiga putra ini lahir di kota Yogyakarta,tanggal 24 Mei 1969.Memiliki hobi membaca,menulis,olah raga dan musik.Sebagai narasumber dari Penerbit ANDI Yogyakarta.Beliau bekerja di Penerbit Andi sejak tahun 2002. Berbagai jabatan telah disandang, mulai dari staff Litbang sampai posisi publishing consultant & e-book development...hingga saat ini.
Selain sebagai praktisi dibidang penerbitan, beliau juga seorang akademisi atau dosen. Didunia tulis menulis tentu saja beliau tidak diragukan lagi, buku-buku karya beliau telah lama menghiasi toko-toko di Indonesia, umumnya berkaitan dengan dunia teknik. Hal ini sesuai dengan latar belakang pendidikan beliau sebagai seorang magister dibidang teknik elektro.
Per Febuari tahun ini genap 20 tahun beliau mengelola penerbitan, yang pada mulanya dari penulis buku mandiri yang hidupnya full dari menulis buku. Kemudian beliau dipercaya untuk mengelola penerbitan buku di Yogyakarta. Malam ini dengan kemurahan hatinya akan sharing pengalaman dalam mengelola penerbitan dengan tema ‘Menguak Dapur Penerbit Mayor’.
Istilah penerbit mayor sebenarnya mengacu pada jumlah produksi buku yang dihasilkan dalam satu tahun. Penerbit dengan jumlah terbitan di atas 200 judul per tahun dianggap sebagai penerbit skala mayor.Semasa pandemi, kami tetap menerbitkan buku di atas 200 judul, meskipun terkendala produksi yang sempat tutup karena outlet toko buku juga terdampak pandemi.
Menurut narasumber tahun 2019 merupakan tahun yang paling berat dalam dunia penerbitan buku, karena perubahan teknologi betul-betul seperti bayang-bayang kelam yang dapat melahap dunia penerbitan buku di Indonesia bahkan di dunia. Runtuhnya dunia surat kabar, merupakan pukulan telak bagi dunia cetak, dan informasi berupa cetakan.
Dunia penerbitan yang saat ini di bawah IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia), menjadi was-was dan memandang cukup berat tantangan ke depan dunia cetak dan produksi buku. Undang-undang no 3 th 2017 tentang sistem perbukuan, telah memberikan isyarat yang tegas akan hadirnya format media digital yang telah diberikan keleluasaan untuk secara bertahan menggantikan dunia cetak. Dipertegas lagi dengan keluarnya Peraturan Pemerintah no 75 yang keluar pada tahun 2019, telah memberikan petunjuk secara tegas untuk memberikan arah dunia digital di penerbitan.
Dari pengalaman selama pandemi, buku format digital masih merupakan embrio yang belum menghasilkan keuntungan yang sama dengan buku fisik. Sehingga masa depan buku fisik masih sangat menarik untuk dicermati. Jadi yang didapat penulis selain royalty (koin) juga poin untuk jenjang akademik. Beliau juga menyarankan tulisan hendaknya mengikuti peraturan pemerintah no 75 (th 2019) yang memberikan arah pelaksanaan undang-undang perbukuan no 3 tahun 2017.
Dalam menjalankan roda usahanya, para penerbit buku, juga menggunakan arah peraturan pemerintah.Kemudian penulis tinggal memilih jenis buku sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.Perkembangan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka, menuntut penerbit-penerbit untuk berlomba-lomba dalam menerbitkan buku yang mendukung literasi dasar.
Sehingga peluang untuk dapat terbit menjadi semakin menarik. Suatu kesempatan bagi penulis jika bisa menyambut peluang ini, mengingat kurikulum baru saat ini menuntut banyaknya sumber-sumber literasi bagi anak didik kita.Saat ini penerbit-penerbit semakin semangat untuk dapat mengisi peluang tersebut, namun kendala utama adalah mencari penulis dengan tema yang marketable.
Ada 4 kuadran yang digunakan oleh penerbit dalam menentukan buku tersebut layak terbit atau tidak di dasarkan pada keilmiahan dan besar market.Kuadran yang menarik bagi penerbit adalah buku yang punya market besar, dan tentunya diimbangi dengan kualitas yang ideal walaupun cukup sulit mencari kuadran buku yang ideal.
Kendala utama untuk terbit adalah keterbatasan modal penerbit, sehingga penerbit akhirnya memberikan syarat-syarat dan saringan untuk dapat mendapatkan naskah yang mendukung industrialisasi buku tetap berjalan.Penerbit biasanya akan melakukan scouting, atau pencarian tema dan penulis, dan tentunya bekerjasama dengan team riset pemasaran untuk menentukan tema apa yang masih dapat diserap pasar. Penerbit, tidak dapat mengesampingkan data pasar buku di Indonesia, sehingga data pemasaran ini sangat penting untuk memberikan arah haluan ke mana produksi buku dapat dikembangkan lebih lanjut.
Untuk itu sangat diperlukan adanya team riset pemasaran yang akan memberikan data awal kemana outlet yang menguntungkan, meskipun saat ini masih dalam situasi pandemi.Team pemasaran bertugas memberikan arah prosentase daya serap pasar saat ini.Terbitan kami bisa dilihat dalam format digital di bukudigital.my.id
Narasumber menyarankan agar membuat perencanaan tulisan naskah untuk ditawarkan ke penerbit, dengan cara ATM yang sangat populer Amati, Tiru, dan Modifikasi..Malam semakin asyik, kelas semakin menarik. Jemari pun semakin nikmat memijat tust keyboard.Siap lanjut menyimak Pak Edi memaparkan materi.
Sesungguhnya siapa yang membiayai penerbitan sebuah buku?
Penerbit mayor biasanya mempunyai dana untuk memilih terbitan buku yang menjadi sasarannya, sehingga semua biaya produksi hingga pemasaran dilakukan oleh penerbit tersebut.Konsep dasar pembiayaan dalam penerbitan buku, adalah penerbitnya yang membiayai.
Karena banyak tulisan yang tidak sesuai dengan misi dan visi penerbit akhirnya tidak dapat terbit. Karena banyaknya buku yang ditolak penerbit, akhirnya penerbit memberikan skema lain dalam penerbitannya. Misalnya dibiayai oleh penerbitnya sendiri, baik melalui skema dana pribadi, CSR Perusahaan, Dana Penelitian Daerah, Dana Sekolah dll.
Trik yang dapat digunakan dan cukup mujarab adalah menulis berbarengan dengan pembiayaan gotong royong antar penulis. Banyak plus minusnya apabila menulis keroyokan, terutama angka kredit yang kecil karena dibagi beberapa penulis.Banyak penerbit-penerbit saat ini menawarkan layanan hal tersebut.
Peserta kelas bisa memanfaatkan sembari belajar untuk memproduksi sendiri buku hingga proses pemasarannya. Karena konsentrasi penulis adalah di Materi yang otentik, dan unik.Penerbit akan membantu dalam hal Pembahasaan dan Penyajian.
Kesimpulan
Penerbit adalah lembaga yang mencari profit, dan mempunyai idealisme dalam menerbitkan bukunya sesuai dengan visi misinya. Penulis dapat mengikuti idealisme penerbit dalam menghasilkan buku yang akan dinikmati oleh pembacanya. Kirimkan usulan penerbitan buku, supaya ide Anda dapat ditangkap penerbit dan disebarluaskan ke pembaca.
Saat ini penerbit sedang mencari tema-tema yang sesuai dengan kurikulum baru. Literasi numeris menjadi target dalam mencari naskah.Terlebih tema yang sedang fenomenal saat ini tentang Profil Pelajar Pancasila. Naskah tulisan memenuhi kriteria untuk diterbitkan. Kriteria yang paling penting dalam sebuah karya adalah otentik dan unik. Karena biasanya satu tema ditulis oleh banyak penulis dengan sudut pandang masing-masing.
Untuk saat ini kita menekankan kriteria sebagai berikut, kriteria penyampaian untuk buku ajar.
Jadi gairah ingin menulis naskah yang bisa dilirik oleh penerbit berkelas seperti ANDI Offset.Berikut cara mengirimkan naskah tentu saja harus sesuai dengan standar diberikan.
Saatnya memanfaatkan kesempatan menulis buku yang terbuka lebar, saat perubahan kurikulum yang menjanjikan. Penerbit Mayor maupun Minor yang ternyata perbedaannya hanya di skala produksi.Ilmu sudah dibagi, informasi telah diberi, kini tinggal diri sendiri menentukan langkah dalam memilah dan memilih penerbit yang tentunya cocok dengan keinginan.
Demikian resume malam ini, yang bisa saya haturkan. Ucapan terimakasih kepada pak Edi yang sudah bersedia berbagi pengalaman dan rahasia dapur penerbit mayor. Semoga teman-teman peserta kelas menulis menjadi lebih tertantang, bergairah, bersemangat untuk segera menyelesaiakan naskah tulisannya.
Semangat...!menyongsong impian...
Stidak berbelit , padat berisi,
ReplyDeleteSemangat... Selamat semoga bukunya segera terbit
ReplyDelete